Sabtu, 18 Februari 2017

My Boy

Ris.. Aku kangen kamu!

Mungkin sudah ribuan kali batinku selalu mengutarakan kerinduannya padamu.
Aku memang tak pandai berbohong terhadap diri sendiri.
Itu terbukti saat bibir ku mampu mengucapkan kebohongan, namun hatiku tidak.
Banyak kata-kata yang sulit aku utarakan saat mendeskripsikan siapakah kamu. Tapi percayalah, bahawa hatiku sangat mudah memahami seluk beluk jiwamu.
Aku pun tak habis pikir bahwa sebegitu mendalamnya kah sosokmu terukir di hatiku. Apakah yang membuatmu begitu sulit aku lupakan bahkan ketika kepergianmu sudah terjadi dibelasan tahun yg lalu?

Aku masih bisa merasakan masih ada chemistry diantara kita.
Itu terjadi saat memori otakku mencoba menggali lagi semua ingatan tentangmu dan tentang kebersamaan kita yang tak lama.
Bahkan saat melihat sosok mungilmu yang utuh dalam beberapa foto, aku masih bisa merasakan bahwa kamu masih hidup di hatiku, Ris. Ya kamu masih hidup di sana! 

Ada banyak getaran yang bisa ku rasakan menjalar di hatiku saat mengingatmu. 
Entah getaran karena rindu atau apa, aku tak tahu. 
Itu terbukti bahwa memang ada sesuatu diantara kita yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata. 
Dan ada sesuatu diantara kita yang tak perlu diketahui banyak orang dan tak perlu restu mereka juga.
Walau kepergianmu yang sebentar lagi menginjak angka 20tahun, tapi sejatinya kamu tak pernah pergi dari hidupku. 
Kamu akan selalu hidup di sukmaku.

Kamu pasti tau kan Ris kalau aku sekarang sudah menjadi seorang yang dewasa bukan remaja lagi? Nah seharusnya kita tumbuh bersama! 
Kalau saja Allah masih membiarkanmu menemaniku di dunia ini, mungkin kita akan selalu tumbuh dan berkembang bersama, pemikiran dan sudut pandang kita pun akan semakin tajam bersama. 
Dan aku tak permasalahkan keyakinanmu itu apakah kamu akan menjadi seorang protestan yang taat atau berani mengubah keyakinanmu menjadi seorang yang meyakini Islam sepertiku. 
Menurutku, keyakinan pun bisa kita pelajari dan kita analisis bersama tanpa harus melukai satu sama lain.

Dan seandainya kamu masih ada, kamu adalah orang pertama yang selalu menjadi tempatku mencurahkan segala keluh kesahku menjalani hidup ini. 
Kamu akan menjadi orang pertama yang akan menemaniku menghadapi suka dan duka. 
Kamu yang akan menjadi orang pertama yang aku minta untuk mengajariku dan mempertajam setiap sudut pandangku dalam menggilas ilmu. 
Karena aku tau bahwa kamu itu pasti lebih cerdas, kuat, dan penyabar dari ku. 
Kamu bagai air yang menjadi penyejuk dikala aku merasa panas.
Dan kepergianmu itu membuatku merasa jomplang, tak seimbang. Aku tumbuh dan berkembang sendiri tanpamu.
Tak ada yang membuatku cepat bangkit dari keterpurukan. 
Aku lemah Ris, aku lemah....


Jika bukan karena keluarga yang menjadi alasan aku harus bangkit dari keterpurukan.. Mungkin aku sudah tak sanggup menjalani hidup ini.
Aku lebih baik menyusulmu di sana ketimbang harus menelan banyaknya pil pahit di kehidupan fatamorgana ini. 
Tapi aku tak bisa menyerah begitu saja Ris... 
Aku tak tega melihat eyang, mama, ijaz, papi dan mbah jika aku menyerah pada keadaan.
Aku tak mau kalah! Karena aku yakin masih banyak hal yang harus aku kerjakan dan aku bahagiakan untuk masa depan. 
Walau sebenarnya aku merasakan pincang tanpamu, tapi aku harus bisa menjadi utuh walau aku rapuh! 


Aku akan menorehkan banyak prestasi di hidupku agar kamu di sana tetap bangga terhadapku.
Aku akan melakukan apapun yang terbaik yang aku bisa.
Aku akan mewakilimu untuk mencapai apa yang belum kamu capai di kehidupan ini.
Karena aku ialah kamu.


Borisku.... Semoga kamu selalu baik-baik saja di sana. 
Adakah bidadari yang menemanimu di sana???
Sejatinya aku cemburu untuk itu :( 
Tapi biarlah.. Akan ku putuskan urat cemburuku asal kau tak kesepian di sana sebelum aku datang menemanimu.
Dan walaupun saat ini Allah memisahkan kita, tapi sejatinya kamu tak pernah mati di hatiku. 
Kamu akan selalu hidup, selamanya :) .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar